Skip to main content
Keuangan

Prospek Asuransi Cerah, Dana Berasuransi Makin Besar

By December 3, 2012October 23rd, 2018No Comments

JAKARTA-Prospek bisnis asuransi di Indonesia di masa depan akan semakin cerah. Pemicunya karena anggaran masyarakat untuk membeli produk asuransi sekarang juga mulai besar. Tak heran jika banyak investor baru yang kemudian tertarik masuk ke industri ini.

 

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mencatat, densitas industri asuransi komersial mencapai Rp 603.800 hingga kuartal III 2012. Nilai itu naik dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp 547.130 dan Rp 432.820 pada 2010. Densitas adalah perbandingan premi dengan jumlah penduduk atau rata-rata pengeluaran masyarakat berasuransi.

 

Sedangkan total premi bruto per akhir September 2012 mencapai Rp 145,52 triliun alias tumbuh pesat dibandingkan akhir 2011 yang sebesar Rp 131,86 triliun. Sekadar informasi, premi bruto adalah gabungan pendapatan premi baru dengan premi lanjutan. “Premi semakin besar karena pengeluaran masyarakat untuk berasuransi meningkat,” kata Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatawarta, Jumat (23/11).

Baca Juga  Tips alihkan dana travelling saat pandemi

 

Bisa jadi, hal ini karena kesadaran masyarakat untuk berasuransi semakin besar. “Tapi, bisa juga disebabkan karena tarif premi semakin mahal karena pengaruh inflasi atau nilai proteksi yang terus membesar,” kata Isa.

 

Pendatang baru

Seiring pesatnya pertumbuhan premi asuransi sepanjang tahun ini membuat minat para investor untuk masuk ke industri ini semakin meningkat. Bapepam-LK mencatat, sekarang ada 140 perusahaan asuransi dan reasuransi. Rinciannya, sebanyak 47 perusahaan asuransi jiwa, 84 asuransi umum atau kerugian, empat perusahaan reasuransi, dan lima asuransi sosial.

 

Jumlah ini bertambah tujuh perusahaan dibandingkan kuartal sebelumnya. Dari jumlah itu, lima pendatang baru masuk ke industri asuransi jiwa dan dua asuransi umum.

 

Salah satu pendatang baru adalah PT Asuransi Jiwa Syariah Amanah Jiwa Giri Artha (Amanah Gita). Ini merupakan anak usaha PT Perhutani. Mereka ingin membidik pasar asuransi di kalangan pegawai Perhutani serta alumni dan peserta training ESQ yang dibentuk Ary Gunanjar.

Baca Juga  Konsep Asuransi Syariah

 

Azwir Arifin, Presiden Direktur Amanah Githa, bilang, perusahaan baru ini menargetkan pendapatan premi Rp 20 miliar hingga akhir tahun. Lalu, target premi semakin besar pada tahun 2013, mencapai Rp 150 miliar.

 

Para investor di perasuransian akan semakin banyak berdatangan pada masa mendatang. Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pernah membeberkan, ada dua investor yang tengah mengajukan perizinan baru kepada Bapepam-LK. Namun, Isa belum bersedia menjelaskan informasi tersebut.

 

Sejauh ini, Bank Central Asia adalah salah satu investor baru di asuransi jiwa. Bahkan, bank kakap ini telah menyiapkan dana Rp 100 miliar untuk pendirian usaha baru tersebut. Rencananya, perusahaan ini akan menjadi anak usaha PT BCA Securities. (kci)

Leave a Reply